Entertainment

Perlahan Tapi Party di Yogyakarta


Jakarta

Perjalanan detikHOT memasuki episentrum pesta dan pergaulan di Yogyakarta sampai pada akhir cerita. Empat hari yang rasanya lebih sebagai perjalanan spiritual dalam memandang bagaimana kemudian sebuah budaya bisa tumbuh dan berkembang, serta diamini kebanyakan orang.

Dari penuturan para narasumber, benar adanya Yogya bagian selatan adalah pusat dari tren. Lebih dari sekadar area di sebuah kota, apalagi hanya jalan raya saja. Dan satu lagi yang juga baik untuk dibawa pulang, bagaimana orang-orang di dalamnya berkreasi didasari kepentingan bersama, bukan rupiah semata.

Tujuh narasumber dari latar belakang yang berbeda itu sepakat untuk satu hal. Pergerakan budaya pop di Yogyakarta bergerak secara komunal. Kelompok kecil yang secara tidak langsung menghidupi kelompok kecil lainnya. Bersenang-senang bersama atas hasrat yang penting kumpul. Pergerakannya perlahan, tapi bukan hanya pasti, juga party.

Tim detikHot tengah berbincang dengan Laire yang merupakan pemilik Restoran JIWAJAWI di Yogyakarta.Tim detikHot tengah berbincang dengan Laire yang merupakan pemilik Restoran JIWAJAWI di Yogyakarta. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

“Kalau di sini tuh dari mulai nongkrong biasa aja bisa jadi sesuatu, karena menurut aku lebih dinamis dan dasarnya komunitas, sangat komunal. Contohnya aku pribadi, aku bikin semacam event organizer gitu namanya After Office Hour, untuk take over bar dan kelab di Yogya. Di satu organisasi itu sudah termasuk bartendernya, tim manajemen, marketing, dan lain-lain. Itu awalnya dari nongkrong. Di sini emang lebih terasa supporting each other gitu sih,” buka Laire yang juga aktif sebagai pengusaha restoran, JIWAJAWI

“Termasuk di JIWAJAWI, aku selalu bilang ke orang-orang, JIWAJAWI tuh kayaknya nggak akan bisa jadi gini sekarang tanpa bantuan teman-teman. Karena jujur waktu awal buka pun hari pertama aku cuma ngundang 30 orang teman, dari mereka ini menyebarkan dan akhirnya jadi gede banget. Karena itu juga aku selalu welcome banget kalau ada teman-teman, misalnya mereka mau pakai untuk acara, pokoknya bebas,” sambungnya.

Penggambaran yang sama juga diungkap oleh Budha Belly. Sebagai DJ dan pemilik warung makan Big Belly Steak, berkomunitas menjadi salah satu landasan dasarnya mengerjakan itu semua. Bahkan lebih ekstrem, mengumpulkan teman-teman adalah niat awal.

Tim detikHot tengah berbincang dengan Kuru/DJ Budha Belly yang merupakan pemilik Big Belly Steak di Yogyakarta.Tim detikHot tengah berbincang dengan Kuru/DJ Budha Belly yang merupakan pemilik Big Belly Steak di Yogyakarta. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

“Aku tuh niat awalnya bikin acara yang isinya anak-anak aja, biar teman-teman dari satu komunitas dengan komunitas lain bisa berdekatan. Bisa ngobrol sesama seniman, orang-orang radio atau media. Bikin skena-skena kecil buat joget, haha-hihi, satu komunitas dengan komunitas yang lain bisa berdekatan. Aku ingin bikin satu ruang yang bisa buat semua ini ngumpul,” ungkapnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close